Tuesday, November 17, 2009

Le Parade de Chaussures

starts with these...cool strap with zipper and it looks comfy!

it's just me or it's batik, right? cool!

yaaaayyy!!!

this is artsy: nice fabric on the strap, and it's a pretty shoes!

brilliant ideas: pearl & the design on its top!

sexy & stylish!

(photos from style com)

Tuesday, October 20, 2009

Selasa ini

hari ini oom saya ulang tahun
sayangnya dia sedang sakit
...
bosan banget di kantor
sementara di luar sana, jalanan macet karena pengalihan dan tutup-buka jalan untuk rombongan sby-budiono lewat
oh ya, mereka dilantik resmi jadi pres & capres RI
syukurlah lancar...

mendengarkan musik prancis sambil bengong-bengong
melihat klip She & Him yang menghibur..
kembali terpekur bosan
...
ingin pulang ke rumah dan tidur saja rasanya...

Thursday, October 15, 2009

Perahu Kertas

Saya enggak tahu harus menulis dari mana dan menulis apa...seperti orang yang sedang jatuh cinta, saya juga begitu dengan buku terbaru dari Dee alias Dewi Lestari, Perahu Kertas. Saya tidak bisa menulis banyak tentang Perahu Kertas karena hati saya sedang terlalu berbunga-bunga, kepala saya terlalu penuh dengan potongan cerita dan barisan kalimat-kalimat dari buku itu. Degup jantung saya cepat sekali, sungguh mirip dengan jatuh cinta dan merindukan sang pujaan. Saya tidak bisa objektif, maksudnya untuk menimbang buku ini sesuai ilmu, teori, atau layaknya jurnalis media. Yang saya bisa bagi adalah saya sukaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali buku ini. Saya suka ceritanya, penceritaannya, tokoh-tokohnya, bahasa tutur, hingga ending buku ini. Kalau saja ada yang tak sreg dengan salah satu unsur tadi, pasti saya tak sebegini cintanya. Ceritanya sederhana, tentang Keenan si pelukis dan Kugy si pendongeng. Umur mereka? abege lah...mahasiswa. Tapi, bukan Dee kalau tak bisa membuat cerita cinta kedua manusia umur jagung itu begitu indah, syahdu, penuh romantisme bermakna, dan dalam bagaikan laut tempat Neptunus si dewa yang jadi bos agen Keenan dan Kugy. Ah, saya menyelipkan cerita itu dalam postingan ini...tidak adil bagi yang belum baca bukunya, enggak akan ngerti kan?!
Yang lucu, dari semua buku yang saya baca dan bagus, semuanya berawal dari buku pinjaman. Saya ini memang menyedihkan. Cinta buku tapi tak pernah menjadwalkan beli buku setiap kali gajian. Mungkin karena tiap bulan harus menimbang 4 buku untuk majalah tempat saya bekerja, makanya saya luput untuk menjadwalkan satu buah buku yang saya pilih sendiri untuk saya baca. Rasanya setiap bulan saya sudah baca buku...tapi bukan buku saya, melainkan buku yang 'harus' saya baca. Perahu Kertas dibawa Tiara, teman saya yang cantik tapi enggak hobi baca. Saya pinjam, baca, malah jumpalitan jatuh cinta. Dulu, saya pinjam Bumi Manusia, ya...sama, jumpalitan juga! Lalu, pinjam Persepolis, The Sirens of Baghdad, dan lainnya...akhirnya ada yang saya beli, ada yang minta dibelikan. Hehehe, ya saya memang menyedihkan. Tapi mungkin ini takdir saya dengan buku. Saya enggak pernah cinta mati banget sampai beli banyak buku bagus yang harus saya baca. Semua pertemuan saya dengan buku (bagus) selalu tak sengaja. Saya 'terpaksa' kenal dulu baru mulai suka dan akhirnya jatuh cinta. Kalau lagi kalap, langsung saya beli. Kalau masih cukup tenang, bisa saya tunda belinya (nabung dulu) atau ya sempat-sempatnya minta dibelikan orang lain (kantong saya aman, hehehe...). Tidak maksimal dan pol-polan memang, tapi sisi baiknya cinta saya tak pernah luntur pada buku2 pilihan saya itu. Semuanya berjejer rapi di rak. Tak banyak tapi saya selalu kangen untuk akhirnya membuka dan membaca ulang mereka. Yang mana saja. Randomlly kangen lah! Nah, begitulah...sekarang cinta saya sedang tersedot kepada Perahu Kertas (yang ketika ini ditulis, belum juga saya beli, masih pinjam). Saya sedih karena saya sudah selesai membacanya. Saya selalu berharap halaman di tangan kanan saya selalu tak pernah berakhir. Selalu ada halaman baru untuk saya buka dan baca. But it's just like life, the book has its end. You can find new book but you can't never find the new chapter or new pages from the old book that has ended. Keberadaannya hanya sepanjang saya membacanya. Tapi efek darinya...it seems endless. Yang lebih saya takjub lagi, tentu saja penulisnya atau apapun sebutannya untuk seseorang yang mampu mencipta karya seperti itu. How blessed he/she is... Saya cemburu tapi bisa diobati selama mereka terus membuat karya yang menghanyutkan saya. Buat saya, untuk itu mereka diberkati kan?! Hehehe...well, anyway, ngakunya enggak bisa nulis banyak, tahu-tahu sudah begini panjang. Pokoknya, buku menjadi elemen penting dalam hidup saya, ya seperti saat ini nih, Perahu Kertas membuat beberapa hari dalam hidup saya di tahun 2009 seolah mengalami peristiwa jatuh cinta....and off course it's so amazing!

Wednesday, October 14, 2009

Dresscode: BATIK

batik in different colors & patterns
Batik from different area/province in Indonesia
me & djak mates in batik
batik indonesia is about culture, the process instead of the result...
Yay yay yay...
tanggal 2 Oktober lalu, Unesco meresmikan Batik sebagai salah satu warisan budaya internasional yang berasal dari Indonesia. Ya, kita memang sudah tahu batik lekat dengan Indonesia. Tak hanya itu, berbagai bukti baik dari ilmu budaya, sosiologi, seni, hingga ranah fesyen, setuju kalau Batik asli akarnya dari Indonesia. Tapi, tentu saja peresmian ini tidak berarti sesempit itu. Unesco mengukuhkan Indonesia sebagai 'pemilik' asli batik dan budayanya ini. Yup, budayanya...jadi jangan terlalu sempit dan terpaku pada kain dan motifnya saja. Batik Indonesia memang tak hanya soal itu. Batik Indonesia mencakup tradisi membuat, prosesinya, memakainya, hingga ritual dan kepercayaan ketika menciptakan batik (so it;s more about the process, not the result). Karenanya, Malaysia atau siapapun bisa saja heran dan (berniat) protes soal ini. Tapi, lagi-lagi ini bukan soal pengakuan motif dan desain batik. Ini adalah Batik as a cultural heritage! Jadi, kalau Malaysia atau negara lain mau bikin batik, ya itu boleh saja, syah saja. Mereka bisa bikin motif dan desain baru, lebih bagus malah lebih baik. Bahkan, sebelum ada pengakuan resmi ini, sudah banyak kok desainer internasional yang menggunakan motif batik atau menyerupainya di dalam desain mereka. It doesn't matter...karena Batik Indonesia lebih ke arah budaya, tradisi, sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup dan diri seorang indonesia. Kita mungkin bersikap layaknya keluarga yang tak sensitif mengungkapkan kepemilikan, rasa sayang, cinta, dan otoritas kita kepada ayah, ibu, adik, kakak, sepupu, dan lainnya. But we're family, no matter what. We belong to each other. Ya begitu juga ketika batik mulai diaku-aku orisinil dari negara lain. Kita, indonesia, baru menoleh...heih? loh, batik kan saudaraku? keluargaku? milikku? Maka itu, pengakuan ini lebih ke arah situ artinya bagi saya. Bukan, bukan berarti siapapun yang mau bikin batik harus bayar kepada kami, Indonesia, bukan itu! Setidaknya, semua orang di dunia ini bisa bercerita..."saya membuat produk ini dengan desain batik. Desain baru, motifnya juga saya yang ciptakan, tapi terinspirasi dari batik yang khas Indonesia". Nah, cukup itu! Setelah pengakuan 2 Oktober, banyak orang berjanji untuk lebih menghargai, mengakui, melindungi, menyanyangi si batik ini. Rasanya seperti keluarga yang pergi kemudia kembali pulang. Tapi, buat saya, cinta di hati kan sangat personal. Pengakuan ini hanya seperti 'ditembak jadian' di televisi nasional atau internasional. Seluruh dunia jadi tahu. Padahal dulu-dulu juga sudah cinta kok. Tapi, memaklumi kebahagiaan ini, ribuan Indonesia berbatik ria di hari itu. Dari pejabat, pegawai, anak-anak, abege di mall, sampai (sumpah) tukang minta2 dan tukang angkut sampah di daerah Manggarai Jakarta terlihat pakai batik. Yang bikin saya lebih senang lagi, ternyata semua indonesia punya batik dalam lemari mereka, meskipun cuma sehelai dan lusuh. It's oke...batik is our part, it's ours, our beloved!
(tulisan ini sepertinya jadi bukti norak kalau saya juga ikut2an baru rame bangga berbatik, hehehe...what the hell lah...)

Thursday, September 17, 2009

Happy Birthday Mon Cher papa

September 17th
happy 69th anniversary, papa
wish you were in the better place
et que Dieu te bennises...

tu me manques beaucoup
-gie-

Sunday, August 9, 2009

Paranoia



(i used these images from Pixton-http://pixton.com/comic/xgec6sub-made by Brunswick)
...Sabtu, 8 agustus kemarin, saya dapat kabar mengagetkan: my cousin, Iman, is having a swine flu! tentu saja, satu rumah langsung geger. Iman, sepupu saya itu umurnya belum genap 3 tahun. belum jelas bagaimana, dia sudah berada si RS Sulianti Soeroso pagi itu. setelah diskusi panik sana-sini, saya kebagian menjemput kakak Iman, Ikhsan, yang duduk di kelas 2 SMP, di rumahnya di Bekasi. Saya, sepupu saya di Bogor, Manan dan Rina, kami bertiga pergi ke Bekasi. Kami sepakat untuk membeli masker dan memakainya begitu kami sampai. Maklum, dengan pengetahuan terbatas kami semua menyimpulkan rumah keluarga sepupu saya di Bekasi itu belum tentu 100% bebas virus influenza kan, apapun jenisnya. Begitu masker sudah di tangan dan kami tiba di depan pintu pagar, sepupu saya Manan tiba-tiba nyeletuk: "kita pake nih? kalau dilihat tetangga gimana? trus nanti kalau nenek lihat gimana? (nenek itu ibu mertua oom saya, nenek yang mengurus Iman dan Ikhsan)- nanti tanya-tanya bagaimana?". Ada benarnya juga. Di perumahan Bekasi yang padat itu, para tetangga sudah keluar rumah begitu melihat mobil kami merapat. Kami jadi celingukan, merasa serba salah. Akhirnya, dengan separuh menyesal, kami memutuskan untuk tidak menggunakan masker. Tentu saja, sambil berharap mudah-mudahan keputusan ini tidak berakibat fatal. Masuk ke rumah, kami berbasa-basi sedikit dengan nenek, sebelum akhirnya bertemu Ikhsan yang baru bangun dari tidur siangnya. Saya langsung memegang jidat dan leher Ikhsan...panas! Ikhsan juga bilang kalau baru tadi pagi dia merasa sesak nafas. Saya kaget, kami kaget! Bisa jadi Ikhsan cuma kena gejala flu biasa, tapi dengan status adiknya di Sulianti Soeroso, ini tidak boleh dianggap enteng. Saya mendadak ingat keputusan kami untuk tidak memakai masker. Duh! Karena demamnya lumayan, kami jadi punya alasan kepada nenek untuk segera kabur dari rumah itu untuk membawa Ikhsan ke RS. Dari Rina, kami memutuskan membawa Ikhsan ke Rumah Sakit AD Gatot Subroto sebagai salah satu rumah sakit rujukan (referal) untuk pemeriksaan flu babi di Jakarta. Sampai di sana Maghrib, kami langsung membawa Ikhsan ke IGD, panasnya masih juga tinggi. Sepupu saya, Rina, langsung melapor pada perawat yang jaga kalau Ikhsan demam, sesak, dan ada latar belakang adiknya yang sudah positif flu di Sulianti Soeroso. Perawat yang sejak awal tampak tak ramah itu langsung mengernyitkan dahi dan menjawab dengan nasa ketus: "ya bawa langsung saja ke Sulianti, ngapain ke sini?!". Saya dengan masih agak tenang berkata, "mau dites awal saja, sus, kan bisa di sini. kalau positif flu A-nya, dan kondisinya gawat, ya saya bawa ke sana. toh kita sudah di sini". Eh, si sus balik jawab dengan tidak mengurangi keketusannya, "tesnya cuma bisa hari kerja, sabtu minggu libur. Lagian ngapain di bawa ke sini kalau adiknya sudah di sana? kok dipisah-pisah begitu?!". Karena sudah kesal, akhirnya kami langsung cabut dari RS itu. Kecewa. Sayang kami tak mengingat nama suster itu. Sementara itu, Ikhsan makin lemah, apalagi sesaknya jadi makin sering. Dag-dig-dug, kami meluncur ke arah Ancol sambil meraba-raba di mana posisi RS Sulianti Soeroso. Maklum, belum pernah dan tidak tahu.
Untungnya, jalan yang kami ambil benar arahnya. Keberuntungan juga kalau kami berhenti di depan bangunan, berniat bertanya ke pedagang yang ternyata gedung itu adalah RS Sulianti Soeroso yang kami cari. Kali ini kami sepakat dan bertekad bulat untuk memakai masker. Erat!
Gedungnya tidak terlalu besar. Sepi. Kami melihat papan dengan tanda panah merah bertuliskan 'Triage Flu Babi'. Kami memutar setengah halaman RS ini sampai akhirnya berhenti di gedung terakhir di paling belakang kompleks. Gedung khusus penanganan flu babi ini sepi dan tak ada orang sama sekali. Pintunya terbuka, lampunya nyala terang, tapi kosong. Ada kursi tunggu dan loket pendaftaran tapi ya kosong. Saya dudukkan Ikhsan di kursi. Kami sudah bersama ayah Ikhsan, oom saya yang sejak pagi sudah disini. Tak lama satpam dengan sepeda datang tergopoh-gopoh dan bertanya: "dokternya sudah ada?". Lah, kok jadi kami yang ditanya?? "Belum", saya bilang. "Baik, saya telpon dulu, pasiennya mana?". katanya. Saya tunjuk ke arah Ikhsan yang sudah tergolek lemas di kursi. Mendadak wajah pak satpam sedikit berubah, langsung ada sedikit kekhawatiran. Saya langsung mengerti, dia tidak pakai masker, padahal kami semua pakai, sementara ada pasien yang kemungkinan kena flu babi. Tapi, setelah sadar, dia langsung masuk ke ruangan administrasi dan menelpon. Dokternya saya harap. Tak lama, dari lorong gedung di depan kami, dua sosok tampak datang dari kejauhan. Nah, ini dokternya, saya pikir. Sepatu but, celana dan baju dari bahan tertentu, sarung tangan karet, masker ganda, kacamata pelindung bermerek Jepang, dan penutup kepala. Itu penampilan dua dokter yang datang. Mereka seperti alien. Full covered and we can't see their faces. Seram tapi sepertinya ini prosedur.
Ikhsan di bawa ke ruang pemeriksaan. Ruangan besar dengan kira-kira lima dipan periksa. Ada tabung oksigen, meja dokter, kursi tunggu dan toilet. Tapi ruangan ini melompong dan sepi. Agak panas dan nyamuknya luar biasa banyak. Saya sempat menggunakan toiletnya. Agak seram. Bukan apa-apa, saya pikir ketika SARS, Flu Burung atau Flu Babi meledak, ruangan ini pasti penuh dengan pasien-pasien suspect maupun yang +. Ihhhh...saya jadi bergidik. Cuci tangan serius sekali.
Setelah diperiksa, dokter memutuskan kondisi Ikhsan masih dalam tahap flu biasa. Ciri-ciri flu babi -nya tidak maksimal. Meski berjaga-jaga, Ikhsan tidak bisa dirawat di Sulianti karena ini RS khusus yang +saja, untuk yang belum terbukti kalau bisa malah jangan bergabung dengan pasien-pasien lain yang sudah +. Akhirnya, Ikhsan diberi obat anti demam, Tamiflu, dan obat lainnya. Kami ditugaskan memantau demam dan sesaknya. Kalau memburuk, Senin harus kembali ke tempat ini. Kalau membaik, bisa dipastikan Ikhsan hanya flu biasa. Dokter juga bilang kalau kami yang ada di ruangan ini harus fit, jaga kesehatan, dan memantau diri kami. Karena kami menjaga Ikhsan yang flu, dan karena kami sudah datang ke tempat ini, tempat di mana pasien-pasien flu babi berada-meski kami tak melakukan hub langsung sama sekali. Dag dig dug, jadi paranoid nih kami!
Begitulah. Ikhsan boleh pulang. Saya ngobrol dengan oom saya. Sepupu saya, Iman, ternyata baru +flu A. Tes untuk H1N1-nya baru keluar Senin nanti. Jadi, Iman belum tentu flu babi. Hanya saja, ciri-ciri dia sudah sangat banyak, sehingga kemungkinannya besar alias statusnya sudah 'suspect'. Iman sudah demam 7 hari, tak nafsu makan, batuk-batuk, flu, dan ketika difoto paru-parunya ada titik-titik putih di dalamnya. Ini artinya sudah terjadi gangguan pernapasan. Pasien flu babi biasanya menderita gangguan pernapasan, karena virusnya langsung menyerang pernapasan (untuk kemudian menyerang organ lain). Maka, Iman dan ibunya-tante saya- langsung dikarantina di gedung khusus sampai menunggu hasil. Positif atau tidak, sekitar lima harian mereka baru bisa keluar dari ruang isolasi. Saya pun tak bertemu dengan mereka malam itu.
Pulang dari RS Sulianti Soeroso, jujur saya jadi kurang tenang. Ada Ikhsan di mobil ini, berbagi udara dengan saya dan dua sepupu saya yang lain. Kami sudah pakai masker dan mengulang mencuci tangan dengan gel khusus berkali-kali di dalam mobil. Ikhsan tertidur di pangkuan saya sepanjang perjalanan pulang. Maksernya terpasang. Badannya panas sekali. Saya pasrah saja. Saya usap keningnya, saya membaca doa. Untuk dia, saya, Iman, dan kami semua.
Mudah-mudahan ini cuma flu biasa...

Friday, July 31, 2009

Merantau: Peek The Teaser

ciat ciat ciat...
yay!
their act is so cool!
watch it more on Merantau the movie!


enjoy!